Fenomena dan Tradisi Menjelang Tujuh Belasan dan Masyarakat di Perbatasan

13747447051453860926

Oleh : Petrus Kanisius

TBN.com : Kurang dari satu bulan lagi menjelang dan menanti tujuh belasan atau tujuh belas Agustus, sudah pasti kita semua akan merayakan hari yang bersejarah yakni hari kemerdekaan Negara Indonesia tercinta. Lalu, apa kaitannya dengan fenomena dan tradisi menjelang tujuh belasan?. Sekelumit pertanyaan dan realita yang terjadi terkait kesibukan dengan berbagai macam bentuk dan ragam. Apa saja fenomena tradisi tersebut?.

Fenomena dan tradisi menjelang hari raya atau setiap memperingati hari-hari besar semua orang atau sebagian orang disibukan dengan berbagai aktivitas kegiatan tambahan. Kegiatan tambahan tersebut tidak lain adalah seperti bersih-bersih taman di perkantoran terlebih khusus kantor dimana perhelatan kegiatan dipusatkan (dilangsungkan), misalnya saja seperti di kantor desa, camat, kantor bupati, kantor gubernur dan tempat-tempat strategis lainnya tidak terkecuali taman kota, bundaran dan lain sebagainya.

Setiap tahunnya tradisi musiman dimana masing-masing masyarakat dan para pekerja sibuk melakukan kegiatan-kegiatan berbenah, mempercantik, merias, memperbaiki dan menata segala perabot agar cantik dilihat sejauh mata memandang. Masyarakat luas juga sangat antusias saat menjelang atau menyambut hari raya tujuh belasan dengan mulai bersama-sama terlihat gotong royong. Mulai dari mempercantik pagar dengan mengiasi dengan warna serba merah putih dan mempersiapkan acara tujuh belasan dengan rangkaian acara dan kegiatan. Tidak ketinggalan pula berbagai perlombaan antar kampung, antar desa, antar kecamatan dan lain sebagainya seperti perlombaan karung, tarik tambang, panjat pinang dan lomba karung serta perlombaan-perlombaan lainnya yang sangat beragam pula.

Tidak bisa di sangkal memang, fenomena dan tradisi menjelang hari raya terlehih khusus memperingati hari Kemerdekaan menjadi sebuah agenda rutin sebagai bagian dari sejarah, sebuah kewajiban untuk dilakukan, pengingat dan penghargaan akan jerih payah para pejuang kemerdekaan. Akan tetapi, sebuah pertanyaan mendasar adalah apakah setiap menjelang hari raya baru semua sibuk berbenah?. Apakah mempercantik dan berbenah hanya saat menyambut hari raya saja?.

13747448291113929906

Warga Desa Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, berjalan kaki membawa hasil bumi melewati perbatasan untuk dijual ke Malaysia. Dari Malaysia mereka biasa membeli gula dan bahan makanan lainnya. Foto dalam http://indonesiaindonesia.com

Fakta terkait fenomena dan tradisi menjelang tujuh belasan yang dimaksud adalah sebuah ironi yang terjadi di masyarakat kita saat ini. Tengok saja, hingar bingar (kemeriahan, kemegahan, kemewahan dan kebesaran para pembesar) saat melangkah dengan tegap dan lengkap dengan jas dan topi serta dasi dengan senyum semerbak dengan penuh wewangian hadir mengikuti upacara dan acara tanpa sedikit pun beban. Sebetulnya, sah-sah saja, namun fakta dan realita tidak berbanding se-iya dan se-kata dengan beberapa anak negeri nun jauh di pelosok negeri. Kenapa demikian?.

Di Kampung-kampung nun jauh di sana, mungkin juga di sini hingar bingar (kemeriahan, kemegahan, kemewahan dan kebesaran) tidak terlihat. Alih-alih mau memperingati hari kemerdekaan, hari tanggal dan mungkin tahun pun mereka tidak mengenalnya. Lho kok tidak mengenal?. Iya iyalah, mereka jauh dari hingar bingar, dipelosok negeri hanya berteman dengan sawah, ladang mereka, ditemani pelita dikala senja dan malam tiba. Mereka hanya mengenal sunyi sepi hutan belantara dan kicauan berbagai burung dan satwa. Ada beberapa masyarakat juga setiap tahunnya lebih mengenal tanggal dan tahun dari kemerdekaan negara tetangga, secara nyata memang terjadi demikian. Misalnya saja, masyarakat pedalaman di Entikong, Sanggau, di perbatasan (Border Area-red), NKRI dengan Kucing, Sarawak, Masyarakat Desa Temajok, Sambas juga berbatasan dengan Sarawak, Malaysia. Selain itu juga mungkin terjadi di pulau-pulau lain atau provinsi lain yang berbatasan langsung dengan Negara-negara tetangga. Secara sosial ekonomi masyarakat juga lebih mengenal mata uang ringgit dalam keseharian mereka. Saya menjadi ingat dari cerita teman yang pernah bertemu langsung dengan masyarakat perbatasan, dia bercerita banyak hal dalam keseharian penduduk perbatasan.

Menurut cerita, mereka (masyarakat yang hidup menetap dan tinggal di perbatasan-red) lebih memilih berbelanja di Negara tetangga di banding didalam negeri. Katanya sih, karena harga-harga kebutuhan pokok lebih murah di negeri tetangga, mereka juga menjual hasil-hasil pertanian mereka. Tentunya karena alasan jarak yang dekat dan mudah di jangkau. Mereka juga lebih mengenal dan lebih tau informasi-informasi luar ketimbang informasi dari dalam negeri. Mereka lebih mengenal hiburan dari luar seperti saluran televisi dan radio, saluran televisi di dalam negeri relatif sulit mereka dapatkan. Mereka juga ada yang menggunakan fasilitas luar negeri.

Terkadang ada suka dan duka melihat realita ini, masyarakat di sana (perbatasan-red), suka dan bangganya mereka tetap menyebut diri mereka berasal dari Negara Indonesia atau dengan kata lain semangat nasionalis mereka tetap ada. Namun dukanya adalah ketika mereka lebih mengenal produk-produk dari luar (berbelanja dan menggunakan mata uang dari Negara tetangga). Selain itu, sedihnya adalah ketika mereka enggan dan asing dengan namanya mata uang rupiah.

Sekilas ulasan cerita masyarakat dari plosok negeri yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga sejatinya menjadi sekelumit cerita di negeri ini, selain beragam cerita lainnya di bumi pertiwi ini. Kelimpahan, kemewahan dan kemeriahan di hari kemerdekaan menjadi warna fenomena menjelang tujuh belasan. Kemandirian dan rasa nasionalis dari penduduk yang mendiami pulau-pulau atau wilayah yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga menjadi sebuah realita rasa nasionalis namun ironis dan asing dengan di negeri sendiri. Mudah-mudahan fenomena dan tradisi menjelang tujuh belasan bisa tercermin/bercermin dengan realita masyarakat di pelosok perbatasan.

Semoga saja……

Sumber : Kompasiana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s