Pawai Budaya Nusantara Meriahkan HUT RI Ke-68 di Istana

Pawai Budaya Nusantara 2013 digelar di Jakarta, Minggu (18/8/2013), untuk memeriahkan perayaan kemerdekaan. Pawai melibatkan sekitar 3.000 peserta dari 33 provinsi. (ANTARA FOTO)

Jakarta-TBN.com:  Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-68 Kemerdekaan RI akan dimeriahkan Gelar Seni dan Pawai Budaya Indonesia di halaman Istana Merdeka, Jakarta, pada hari Minggu 18 Agustus 2013 pukul 16.00 WIB.

Presiden Yudhoyono dengan didampingi oleh Ibu Ani Yudhoyono membuka dan menyaksikan secara langsung Pawai Budaya Nusantara,  bertema “Budaya Pemersatu Bangsa” itu. Kepala Negara dan Ibu Ani  terlihat turut larut dalam keriuhan yang ada dan beberapa kali bertepuk tangan saat menyaksikan aneka tarian dan mobil hias yang lewat.

Dalam pawai budaya kali ini warga tidak hanya berkesempatan menyaksikan aneka tarian tradisional dan pakaian tradisional namun juga miniatur bangunan khas kebanggaan masing-masing provinsi, antara lain miniatur Candi Borobudur, Tugu Yogyakarta, dan Ondel-Ondel raksasa.

Pawai Budaya Nusantara tersebut merupakan rangkaian kegiatan bidang seni dan budaya dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-68 tahun 2013. Pawai tersebut rutin diselenggarakan setiap tahun kecuali tiga tahun terakhir karena peringatan Proklamasi Kemerdekaan jatuh bersamaan dengan Bulan Ramadhan.

Kontingen sepuluh provinsi terpilih sebagai penampil terbaik dalam pawai budaya Nusantara 2013. Ke sepuluh provinsi itu adalah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jambi, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sulawesi Barat, dan Jawa Tengah.

Sebagai bentuk penghargaan kontingen budaya dari 10 provinsi itu menerima piala dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada akhir acara.

Sumber : Antara

Iklan

Zaman Penjajahan, Belanda Takut pada Prajurit Dayak

https://tapalbatasnegeri.files.wordpress.com/2013/07/b27bd-sumpitdayak.jpg

 foto : Bram Tunggal Sapura

 

TBN.com: Di masa penjajahan Belanda, Kalimantan yang berhutan lebat jadi kawasan paling ditakuti para kumpeni. Meskipun persenjataan mereka sangat lengkap dan canggih di masa itu. Apa alasannya ?

Penyebab yang membuat pihak penjajah gentar itu adalah anak sumpit yang beracun milik prajurit-prajurit Dayak. Sebelum berangkat ke medan laga, mereka mengolesi mata anak sumpit dengan getah pohon ipuh atau pohon iren. Dalam kesenyapan, mereka beraksi melepaskan anak sumpit yang disebut damek.

“Makanya, tak heran penjajah Belanda bilang, menghadapi prajurit Dayak itu seperti melawan hantu,” tutur Pembina Komunitas Tarantang Petak Belanga, Chendana Putra.Tanpa tahu keberadaan lawannya, tiba-tiba saja satu per satu serdadu Belanda terkapar, membuat sisa rekannya yang masih hidup lari terbirit-birit. Kalaupun sempat membalas dengan tembakan, dampak timah panas ternyata jauh tak seimbang dengan dahsyatnya anak sumpit beracun.

Tak sampai lima menit setelah tertancap anak sumpit pada bagian tubuh mana pun, para serdadu Belanda yang awalnya kejang-kajang akan tewas. Bahkan, bisa jadi dalam hitungan detik mereka sudah tak bernyawa. Sementara, jika prajurit Dayak tertembak dan bukan pada bagian yang penting, peluru tinggal dikeluarkan. Setelah dirawat beberapa minggu, mereka pun siap berperang kembali.

Penguasaan medan yang dimiliki prajurit Dayak sebagai warga setempat tentu amat mendukung pergerakan mereka di hutan rimba.

“Karena itu, pengaruh penjajahan Belanda di Kalimantan umumnya umumnya hanya terkonsentrasi di kota-kota besar tapi tak menyentuh hingga pedalaman,” Chendana.

Tak hanya di medan pertempuran, sumpit tak kalah ampuhnya ketika digunakan untuk berburu. Hewan-hewan besar akan ambruk dalam waktu singkat. Rusa, biawak, atau babi hutan tak akan bisa lari jauh. “Apalagi, tupai, ayam hutan, atau monyet, lebih cepat lagi,” katanya.

Bagian tubuh yang terkena anak sumpit hanya perlu dibuang sedikit karena rasanya pahit. Uniknya, hewan tersebut aman jika dimakan. “Mereka yang mengonsumsi daging buruan tak akan sakit atau keracunan,” kata Chendana.

Baik hewan maupun manusia, setelah tertancap anak sumpit hanya bisa berlari sambil terkencing-kencing.

“Bukan sekadar istilah, dampak itu memang nyata secara harfiah. Orang atau binatang yang kena anak sumpit, biasanya kejang-kejang sambil mengeluarkan kotoran atau air seni sebelum tewas,” pungkas Chendana.

Sumber: kaskus

Inilah Kebudayaan Manggarai, Tarian Caci

Inilah Kebudayaan Manggarai, Tarian Caci

 

Kebudayaan Manggarai di Provinsi Nusa Tenggara Timur telah setua kehidupan masyarakat Manggarai semenjak bumi, manusia dan seisinya diciptakan Allah.  Sadis dan tanpa kompromi jika ditilik secara saksama pertarungan demi pertarungan antara lelaki ganteng dan pemberani. Tapi sesungguhnya itu bukanlah kharakter khas orang Manggarai. “That’s only game”, itulah kata-kata yang tepatnya.

 

Sepanjang sejarah peradaban Manggarai, jika Tarian Caci dimainkan, satu hal yang tak boleh tidak dilakukan adalah kewajiban dari kaum perempuan untuk keluar dari kamar untuk menyaksikannya sembari hati bertanya-tanya apakah dia adalah pria yang sesuai dengan mimpi semalam?

Hmmmm, daripada berpanjang kata hingga ngelantur, simak saja tarian caci yang sangat memukau sekaligus bikin hati dag dig dugan ini.

Sumber : moral-politik.com

Ja’i, Tarian Massal dari Perbatasan Timur Indonesia, Pecahkan Rekor MURI

136112782519040567

8 ribu Masyarakat NTT se Jabodetabek larut dalam irama Ja’i massal di arena PRJ Sabtu (16/2/2013)

*) Konon asalnya dari India

 

Sabtu, 16 Februari 2013 anak-anak Nusa Tenggara Timur (NTT) perantauan di Pulau Jawa untuk pertama kalinya menggelar pesta rakyat dan karnaval budaya NTT di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ). Tidak kurang dari 10 ribu orang NTT se Jabodetabek, Bandung, dan Banten memenuhi semua sisi dan sudut PRJ.

Mereka tampil dalam pakaian dan assesoris khas daerah masing-masing, sehingga menjadikan Arena PRJ bagaikan lapangan terbuka di kota Kupang (Ibukota NTT). Semua usia dan lapisan campur baur menjadi satu, dalam kecerian dan sukacita bersama. Bahkan ada yang menjadikannya ajang reuni, karena sudah lama tak saling jumpa.

13611625501983209960

Makan bersama sebelum dan setelah Ja’i

Suasana penuh sukacita itu mereka satukan dalam ekspresi budaya daerah mereka masing-masing dengan berbagai bentuk. Mengenakan kostum dan assesoris daerah, membawa makanan khas untuk dinikmati bersama, membawakan tari dan lagu di atas panggung kehormatan, membawa hasil kerajinan tangan, tenunan dan lain sebagainya. Yang tak kalah penting adalah berbagi cerita tentang perkembangan kampung halaman masing-masing untuk membangkitkan rasa rindu pulang kampung.

Acara dengan tema “NTT Memanggil” itu digelar untuk merayakan HUT ke-54 Provinsi NTT sekaligus mempromosikan Sail Komodo-2013.

13611621881529191738

anggota Tim Pemandu Ja’i Massal

Provinsi yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste ini tercatat sebagai provinsi dengan pulau terbanyak di dunia yaitu 566 pulau yang berjajar antara 80-120 derajat LS dan 1180-1250 Bujur Timur. Di antaranya adalah Flores, Sumba, Timor dan Alor. Karenanya NTT sering disebut sebagai Flobamora (singkatan dari Flores, Sumba, Timor dan Alor).

Jumlah ratusan pulau besar dan kecil itu sekaligus mengisyaratkan bahwa di sana ada sejuta kekayaan budaya yang belum banyak diketahui publik. Kazanah budaya yang masih ‘terpendam’ itu sebagian kecilnya telah ditampilkan di atas panggung di arena PRJ disaksikan tamu kehormatan Gubernur DKI Jakarta Jokowi didampingi Gubernur dan Wagub NTT. Kehadiran Jokowi untuk memenuhi harapan warga NTT yang menginginkan agar Jakarta menjadi etalase promosi wisata budaya NTT ke mancanegara.

 

Rekor MURI

Sukacita anak-anak 566 Pulau itu kemudian membuncah dalam satu tarian massal, yaitu JA’I. Museum Rekor Indonesia (MURI) yang hadir dalam acara itu mencatat Ja’i massal tanggal 16 Februari 2013 itu telah memecahkan rekor nasional dengan jumlah massa 8 ribu orang.

Pemecahan Rekor Muri Jai Massal

Pemberian Piagam Rekor MURI kepada Ketua FKM Flobamora dan Kepala Perwakilan NTT di Jakarta

Tarian daerah khas Bajawa dari Pulau Flores ini sudah sangat populer di kalangan masyarakat NTT diaspora, baik di dalam maupun di luar negeri. Sekitar delapan ribu orang seakan terhipnotis larut dalam keseragaman gerakan JA’I penuh energi asal kabupaten Ngada ini. Konon, tarian massal ini asal-usulnya dari India yang pada abad pertengahan dibawa para eksodus India ke Flores, NTT. Tak heran kalau Ja’i khas Bajawa ini mirip dan sebangun dengan satu jenis tarian populer di India bernama Ja’i Ho.

http://www.youtube.com/watch?v=HxofohmohJY

Kemiripannya terletak pada kharakter dasar tarian itu sendiri, yakni sebagai tarian massal atau tarian komunal (bukan aksi individu). Artinya, semakin banyak orang yang ikut menari (Ja’i), semakin nikmat dan indah Ja’i itu ditonton. Karena itu tarian ini hanya cocok bagi masyarakat komunal (lawan dari masyarakat individual) yang menjadi ciri khas masyarakat NTT kebanyakan.

Kemiripan lainnya adalah keajegan ragam gerakannya. Sedikit ragamnya namun dilakukan berulang-kali mengikuti irama lagunya yang khas atau gong-gendang yang mengiringinya. Simple ragamnya namun kaya energinya. Dilakukan penuh rasa, sepenuh jiwa, sembari merengkuh dan melepaskan energi.

Barangkali inilah salah satu pertimbangan MURI mengapa Ja’i dipilih masuk rekor. Tidak saja karena jumlah massa terbanyak, tetapi juga suasana sukacita yang dihasilkan dari energi ja’i, serta penyebarannya hingga ke berbagai pelosok negeri.

http://www.youtube.com/watch?v=DBJ8bc4kXeA

Tari Perang di Perbatasan

dayak-5

Malinau-TBN.com : Ratusan pemuka adat suku Dayak Kenyah berkumpul dan bermusyawarah di balai adat di Desa Long Nawang, Malinau, Kalimantan Timur, yang hanya berjarak sekitar 50 kilometer dari perbatasan Serawak, Malaysia. Mereka berkumpul untuk membicarakan adat istiadat dan budaya Dayak Kenyah, termasuk tarian perang yang merupakan warisan leluhurnya.

Di depan balai adat tersebut, terdengar lantunan musik khas mengiringi para penari “gerak sama” yang diperagakan kaum perempuan. Tari tersebut sebagai sambutan bagi para ksatria yang pulang dari medan perang. Ketika musik bass dan gendang (sampek) semakin dikencangkan, para ksatria tersebut berteriak kencang dan mulai ikut menari. Para kesatria tersebut menari tarian perang lengkap dengan pakaian perang, seperti hiasan rompi bulu kambing (sebunung), perisai (klempit), celana terbuat dari kulit (abet), hiasan kepala (bluko), pedang, dan gelang di pangkal lengan (seleng).

dayak-2

Para kesatria menari mengelilingi para kesatria lainnya yang sedang beradu ketangkasan perang dan yang kalah akan mundur digantikan kesatria lainnya. Tari perang merupakan gambaran cara berperang para leluhur. Tarian tersebut dilakukan satu tahun sekali dengan mengumpulkan seluruh pemuka adat dari seluruh Kaltim, mulai dari kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, Kayan Selatan, dan Sungai Boh. Hal ini dilakukan untuk menjaga kelestarian budaya dan menjaga persatuan suku Dayak Kenyah, khususnya persatuan Indonesia.

dayak-3

Suku Dayak Kenyah di daerah tersebut merupakan garda terdepan dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mereka adalah halaman depan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Mungkin tarian perang tersebut hanya tradisi dan budaya leluhur, tapi itu menandakan bahwa mereka selalu siap mempertahankan NKRI meski 90 persen bahan makanan pokok mereka disuplai dari Malaysia.

Sumber : Antara   [http://www.antarafoto.com]