Personel Raider-100 siaga di perbatasan Indonesia-Malaysia

Langkat, Sumut – TBN.com: Sebanyak 650 personel TNI Kodam Satu Bukit Barisan dari Batalyon Raider-100 yang bermarkas di Sei Bingei Kabupaten Langkat Sumatera Utara akan diberangkatkan untuk menjaga perbatasan Indonesia dan Malaysia pada September mendatang.

Danyon Raider-100 Letkol (inf) Safta Feriansyah di Stabat, Rabu, menjelaskan personel yang diberangkatkan itu akan menjaga perbatasan di Provinsi Kalimantan Timur antara Indonesia dan Malaysia selama tujuh sampai sembilan bulan.

Berbagai tugas yang akan dilakukan adalah patroli perbatasan dan kegiatan sosial bagi masyarakat setempat. Serangkaian latihan dan persiapan untuk keberangkatan juga sudah dilakukan.

Safta Feriansyah mengungkapkan salah satu latihan yang dilakukan termasuk latihan anti teror. Dalam latihan simulasi anti teror ini prajurit Raider-100 berhasil mengamankan aksi teror yang dilakukan para teroris.

Menurutnya latihan ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas prajurit TNI, jika sewaktu-waktu diminta untuk menanggulangi aksi terorisme.

“Ini juga menjelang keberangkatan prajurit untuk menjaga perbatasan,” katanya.

Sumber : Antaranews

Iklan

ODC Unsyiah Siap Gelar Tari Likok Pulo di Laut Sabang

Ilustrasi : travel.detik.com

Darussalam-TBN.com: Menyambut hari kemerdekaan Indonesia, Ocean Diving Club (ODC) Unsyiah siap gelar pengibaran bendera merah putih dan tari likok pulo dari dasar laut Iboh, Sabang, 17 Agustus mendatang.

Maulia Oktari Noor, ketua panitia acara mengatakan, agenda tersebut nantinya akan melibatkan
sekitar 50 orang yang terbagi dalam beberapa tim inti. “30 orang dari ODC Unsyiah,sudah termasuk didalamnya tim inti sebanyak 15 orang dengan rincian 5 orang pengibar dengan tiga orang sebagai penggerek bendera,” terangnya saat dihubungi http://www.detak- unsyiah.com via telepon, Sabtu (03/08/2013).

Maulia menjeleskan, inspektur dan komandan upacara dipegang oleh Angkatan laut Sabang ditambah 10 orang penari yang ke semuanya adalah anggota ODC Unsyiah. “Selebihnya sekitar 20 orang merupakan peserta yang diundang dan yang mendaftarkan diri dengan persyaratan memiliki alat selam sendiri, kecuali tabung oksigen yang akan disediakan oleh ODC Unsyiah,  yang paling utama memiliki  fotocopy sertifikat selam,” jelasnya lagi.

Sejauh ini, kata Maulia, persiapan jelang hari H telah rampung 80 persen. “Kami telah melakukan latihan darat mulai dari awal bulan enam, untuk simulasinya sendiri kami menggunakan kolam Tirta Raya sebagai  tempat latihan pengibaran bendera dan tari likok pulo.”

Lebih lanjut, Maulia mengeluhkan kendala yang mereka hadapi terkait konsumsi di hari H nantinya. “Mengingat kami akan menghabiskan waktu sekitar lima hari disana dan Pemko Sabang hanya menanggung konsumsi selama 2 hari saja,” sebut Maulia. Namun mereka telah berinisiatif untuk membuka dapur umum dengan budget yang tersedia untuk menyiasati masalah konsumsi.

Tim ODC Unsyiah akan bertolak ke Sabang pada tanggal 14 Agustus. “Nantinya pengibaran bendera akan dilaksanakan pada siang hari,sekitar pukul 13.30 WIB, namun masih bisa berubah tergantung kapan tiba walikota Sabang guna membuka acara sekaligus pemberian bendera,” katanya.

Maulia juga telah menginfokan kegiatan bergengsi ini kepada media televisi nasional seperti Metro TV dan TV One. “Pihak TV One meminta untuk bekerjasama dengan Pemko Sabang,sementara pihak Metro TV belum memberi konfirmasi apapun sampai saat ini,” tutupnya.

Sumber : http://detak-unsyiah.com

Sail Komodo Jadi Lahan Kampanye Laut Timor

Sail Komodo Jadi Lahan Kampanye Laut Timor

Sekitar 127 kapal dari 47 negara ikut memeriahkan rangkain pembukaan Sail Komodo 2013 di Labuan Bajo, Flores, NTT, (8/5). Kegiatan ini bertemakan: Sail Komodo 2013: Jembatan Emas Menuju Nusa Tenggara Timur Menjadi Destinasi Utama Pariwisata Dunia. Foto :  Tempo.

 

KUPANG-TBN.com : Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) memanfaatkan momentum “Sail Komodo” untuk mengkampanyekan perjuangan rakyat Timor Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) atas petaka pencemaran Laut Timor kepada ratusan wisatawan manca negara.

Mereka menyebarkan brosur kepada para wisatawan mancanegara tersebut yang diberi judul “Lembaran fakta, apakah petaka tumpahan minyak Montara di Laut Timor ditutupi atau tidak”.

Isi dari brosur tersebut memuat tentang kebohongan perusahaan pencemar Laut Timor PTTEP Australasia disertai foto tentang penyemprotan bahan kimia beracun dispersant oleh AMSA untuk tenggelamkan tumpahan minyak mentah dari permukaan air laut ke dasar laut.

Brosus YPTB menyebutkan bahwa rakyat Timor Barat dan Nusa Tenggara Timur mencari bantuan dari masyarakat dunia untuk mendukung dan memberikan tekanan pada Pemerintah Australia, Thailand dan Indonesia dan perusahaan pencemar Laut Timor PTTEP AA untuk menyelesaikan pencemaran di Laut Timor yang mulai terlupakan.

Ketua YPTB, Ferdi Tanoni mengatakan tumpahan minyak Montara 2009 di Laut Timor yang ditutupi secara transparan, independen dan kredibel. Padahal, tumpahan minyak Montara yang mencemari Laurt Timor menurut para ahli lebih besar dari petaka tumpahan minyak di Teluk Mexico. “Sudah empat tahun Petakan tumpahan minyak Montara ini ditutupi,” katanya.

Pencemaran itu menyebabkan puluhan ribu warga Timor Barat kehilangan mata pencaharian. Karena itu, Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) sebagai satu-satunya otoritas dengan dukungan lebih dari 95 persen masyarakat nelayan, tokoh adat dan pemerintah NTT telah mengajukan pengaduan dan dan mengajukan gugatan di Pengadilan Australia.

Sumber : TEMPO.co

Menko Kesra Lepas Peserta Sail Komodo 2013

LEPAS PESERTA SAIL KOMODO

Kupang-TBN.com: Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) HR. Agung Laksono melepas 129 kapal layar dari 15 negara peserta Sail Komodo, Minggu (4/8/2013)  di Pantai Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Sail Komodo ini mengusung semangat pembangunan kelautan, termasuk wisata bahari sesusai dengan tujuan penyelenggaraannya yakni mempromosikan NTT sebagai destinasi utama pariwisata dunia,” kata Menko Kesra.

Pelepasan peserta Sail Komodo ini dipusatkan di Pantai Kupang. Menko Kesra selaku Ketua Pengarah Sail Komodo 2013, mengatakan event ini sejalan dengan amanat Masterplan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) Koridor V yang mencakup Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan NTT.

Menurut dia, pemerintah ingin mengembangkan rute pelayaran kapal-kapal dan pelaut ke perairan NTT. Hal ini terbukti dengan menjadikan Kupang sebagai pintu masuk, karena wilayah ini adalah gerbang selatan perairan Laut Indonesia.

Momentum Sail Komodo 2013 juga, kata Menko Kesra, menjadikan NTT sebagai “The Best Sailing Passage”. Hal ini mengingat potensi besar yang dimiliki daerah ini baik di sektor kelautan dan perikanan serta sektor pariwisata. “Melalui Sail Komodo 2013 diharapkan potensi kelautan dan perikanan di NTT dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin sebagai sumber penghidupan rakyat dan sumber pembangunan daerah yang berkelanjutan,” katanya.

Dibaginya dua jalur bagi para yachter yang saat ini sudah ada di Kupang, membuat mereka dapat memikmati eksotisme alam NTT. Harapannya adalah ada dampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir yang tinggal di wilayah setempat.

Pada kesempatan itu Agung meminta tiga operator sail yakni Sail Indonesia, Baxck to Down Under Rally dan Darwin Ambon Yacht Rally menghadirkan seluruh sailor pada acara puncak Sail Komodo, 14 September 2013 di Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Hadir dalam acara pelepasan sail itu Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu serta pejabat daerah setempat.
Sekitar 127 kapal dari 47 negara ikut memeriahkan rangkain pembukaan Sail Komodo 2013 di Labuan Bajo, Flores, NTT, (5/8/2013). Kegiatan ini bertemakan “Sail Komodo 2013: Jembatan Emas Menuju Nusa Tenggara Timur Menjadi Destinasi Utama Pariwisata Dunia”

“Berbuah Manis” Bagi Ekonomi NTT

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada triwulan II tahun 2013 mencapai 106,35, sebagai indikator bahwa kondisi ekonomi konsumen dan tingkat optimisme meningkat dibanding triwulan sebelumnya.

Kepala Bidang Integrasi, Pengolahan dan Desiminasi Badan Pusat Statistik NTT Desmon Sinurat di Kupang, Sabtu (3/8/2013), mengatakan nilai ITK yang dicapai NTT tersebut masih rendah jika dibandingkan ITK nasional yang mencapai 108,02 atau selisih 1,67 poin dan menduduki peringkat tiga terbawah.

“Faktor pendorong penyebab meningkatnya kondisi ekonomi konsumen di NTT adalah meningkatnya pendapatan rumah tangga kini (nilai indeks sebesar 106,68) dan rendahnya pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi,” ucapnya menjelaskan.

Ia mengemukakan geliat ekonomi di NTT dipicu oleh adanya Sail Komodo, panen raya tanaman pangan, Pilkada maupun liburan anak sekolah. Menurut dia, membaiknya kondisi ekonomi konsumen pada triwulan II 2013 ditandai dengan peningkatan nilai indeks komoditi bahan makanan sebesar 104,84 dan komoditi bukan makanan.

Komoditi non makanan itu terdiri dari sektor perumahan (listrik, gas dan bahan bakar) dengan nilai indeks sebesar 103,56, pendidikan (nilai indeks sebesar 110,44), transportasi (nilai indeks sebesar 110,95), dan komunikasi (nilai indeks sebesar 107,72).

“Secara gabungan tingkat konsumsi beberapa komoditi makanan dan bukan makanan meningkat dengan nilai indeks sebesar 104,38,” sambungnya.

Pada triwulan II 2013, jelas dia, juga tercatat peningkatan persepsi ekonomi konsumen dibanding triwulan I 2013 yang mencapai 101,53.

Demikian juga dengan perkiraan nilai ITK triwulan II 2013 yang perhitungannya dilakukan pada triwulan sebelumnya dengan nilai indeks 105,76. Secara nasional, tambahnya, kondisi perkonomian di semua wilayah Indonesia pada triwulan II 2013 mengalami perbaikan.

Provinsi yang memiliki nilai ITK tertinggi adalah Bali 111,69, menyusul Banten 110,93 dan DKI Jakarta 110,87, sedang provinsi yang mengalami ITK terendah adalah Papua 106,15, diikuti Lampung 106,32 dan NTT 106,35.

Nilai ITK NTT pada Triwulan III 2013, menurut dia, diperkirakan sebesar 108,21 artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan akan membaik dengan tingkat optimisme konsumen diperkirakan akan lebih tinggi dibanding triwulan II 2013 yang hanya mencapai 106,35.

Ia mengatakan perkiraan membaiknya kondisi ekonomi konsumen pada triwulan III 2013 didorong oleh peningkatan pendapatan rumah tangga dengan nilai indeks 111,35 serta rencana pembelian barang tahan lama sebesar 102,59.

“Tingkat optimisme konsumen kami perkirakan akan jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2013,” tandasnya.

Sumber : http://www.menkokesra.go.id/

Ini penyebab pangan ilegal beredar di daerah perbatasan

Sindonews.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) mengungkapkan, faktor utama banyaknya produk ilegal yang masuk ke daerah perbatasan Indonesia karena berdekatan dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Selain itu, keluar masuknya barang pangan yang tidak memiliki izin dari daerah setempat. Serta penggunaan jalur resmi dengan dokumen palsu. “Dari 3.307 sarana distribusi yang diperiksa 1.099 sarana tidak memenuhi ketentuan (TMK) atau sekitar 63 persen.” ujar Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Roy Sprringa, Kamis (1/8/2013).

Dalam hal ini, Malaysia mendominasi sebagai negara produk ilegal sebesar 27 persen. Negara kedua disusul Thailand 22 persen dan Sinngapura 11 persen. Negara lainya seperti China, Perancis dan Slandia Baru. Dikarenakan hal ini kerugian ekonomi mencapai Rp5,2 miliar.

Dalam analisis temuan produk tanpa izin edar (TIE) sebanyak 76 persen dengan kerugian sekitar Rp5.2 miliar. Produk kadarluasa sebanyak 15 persen dengan kerugian Rp1 miliar.

Produk ini banyak beredar di daerah yang jauh dari sentral produksi dan distribusi serta sulitnya akses transportasi, dengan produk-produk seperti biskuit, bumbu instan, dan makanan ringan. “Jayapura, Aceh, Kupang , Palangkaraya, dan Kendari adalah daerah yang sulit akses,” katanya.

Menurutnya, produk rusak sebanyak 2,2 persen dengan kerugian Rp156 juta. Produk rusak seperti penyok dan berkarat produk kaleng susu, buah dalam kaleng dan ikan. Selain itu, produk yang TMK labelksebanyal 0,02 persen dengan kerugian sebesar Rp1.3 juta

Kepala PLT Badan POM, M Hayatie Amal, mengatakan, dalam temuan yang dilakukan Badan POM dari pangan TMK sebanyak 3.037 item dari 171.887 kemasan yang terdiri dari 964 jenis pangan rusak diantaranya ditemukan berbentuk kemasan sebanyak 3.907.

Selain itu, sebanyak 1.844 jenis pangan kadarluasa sebanyak 26.505 ditemukan berupa kemasan. 706 jenis pangan TIE, 130.374 diantaranya berupa kemasan dan 429 jenis TMK label, 11.068 diantaranya berupa kemasan.

“Dibandingkan dua tahun lalu, tahun ini hasil temuan mengalami peningkatan yang signifikan dilihat pada jumlah dan nilai temuan,” kata dia.

Dalam hal ini, lanjut Roy, Badan POM telah melakukan tindak lanjut terhadap temuan tersebut dengan melakukan pembinaan pada pemilik sarana. Serta melakukan penegakan hukum seperti sangsi administratif yaitu berupa peringatan, perintah pengamanan tempat dan pemusnahan yang dilanjutkan dengan pro-justitia terhadap pelaku usaha yabg telah melakukan hal tersebut berulang kali.

“Tindakan seperti ini tentu menyalahi aturan dan pro-justitia akan dilakukan pada pengedae yang mengedarkan produk pangan ilegal dalam jumlah besar,” ujar dia.

Selain itu, bekerja sama dengan bea cukai untuk pemda setempat untuk membantu melakukan pengawasan. Hal ini akan dilakukan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui SKB antara Kemendagri dan Badan POM.

“SKB ini akan menekan kan pada suplaai barang yang dimulai dari keamanan dan penyalahgunaan zat berbahaya. Serta barang tersebut harus didaftarkan dan proses penyalurannya,” tegas dia.

 Sumber :sindonews

Tar Ball “Menjajah” Bintan

Ilustrasi : www.oil-spill-info.com

Oleh: Kherjuli

“Tar Ball, the little, dark-colored pieces of oil that stick to our feet when we go the beach, are actualy remnants of oil spills. You may sometimes find the Tar Ball on our beach.

Due to the busy shipping routes through the Singapore straits and the irresponsible practice of shipping companies, residual amounts of tar currently washing up on our beach, brought in by the monsoon winds and current.

If any tar should get in contact your skin, you can wash it off cleaning oil and soap provided for you at the various beach showers.

Please rest assured that we are making efforts to keep our beaches clean at all times and we would like  to apologize for any inconvenience caused”.

 

Beberapa pengaruh negatif yang dirasakan oleh bangsa Indonesia, terutama mereka yang tinggal di daerah perbatasan seperti praktek Pencurian Kekayaan Laut (Illegal Fishing), Eskplorasi Pasir, Gangguan Signyal Telepon Seluler, Gangguan Frekwensi Gelombang Radio, Praktek-praktek penyeludupan (smokel) barang-barang bekas/limbah, dan Tar Ball (Bola Tar). Mungkin masih ada lagi yang lain.

Tar Ball adalah gumpalan minyak yang telah lapuk setelah mengambang di laut. Tar Ball merupakan Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang dapat mencemari lingkungan. Tar Ball dapat terjadi akibat sisa-sisa tumpahan minyak.

Tar Ball kerapkali mengotori sekitar pantai Bintan dimusim utara. Tar Ball merupakan kado buruk praktek yang tidak bertanggung jawab dari perusahaan pelayaran asing di Selat Singapura yang mengakibatkan nelayan, masyarakat lokal dan pengelola wisata dirugikan.

Berbagai desakan dilontarkan oleh sejumlah LSM Lingkungan maupun Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kabupaten Bintan kepada Pemerintah/Pemerintah Daerah, agar praktek tidak bertanggung jawab itu tidak terulang kembali. Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Bintan agar Tar Ball tidak singgah di peraian Bintan. Antara lain meminta penyelesaian masalah kejahatan lingkungan di laut dilakukan secara G to G (Government to Government) antara Pemerintah Indonesia dan Singapura. Namun sampai dengan Februari 2013 yang lalu belum juga membuahkan hasil. Semoga pada musim utara mendatang, tidak ditemukan Tar Ball disana.

Namun upaya itu belum membuahkan hasil. Kenyataannya, penyelesaian masalah Tar Ball itu  memang harus dilakukan oleh Pemerintah. Sebab, sumber limbah itu diduga berasal dari Selat Singapura yang merupakan jalur pelayaran internasional yang ramai dan sibuk.

Tidak menepis kemungkinan sumber limbah B3 itu berasal dari perusahaan pelayaran dalam negeri. Untuk itu diperlukan investigasi secara menyeluruh untuk menjawab anggapan yang berdampak kepada citra pariwisata Bintan. Harus ada political will Pemerintah untuk menyelesaikan masalah kemerdekaan lingkungan. Presiden SBY seyogyanya bersikap tegas terhadap masalah Tar Ball di Bintan, dengan memerintahkan Kapolri dan Menteri Lingkungan mengusut tuntas dan menemukan pelakunya. Suruh Negara tetangga itu minta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Jangan sampai kedaulatan laut dan pantai kita dicemari  Tar Ball.

Kita apresiasi ketika Presiden SBY menyikapi masalah asap kabut yang singgah ke Negara tetangga kita beberapa waktu lalu. Presiden SBY tidak segan-segan meminta maaf dan memerintahkan Kapolri untuk melakukan investigasi menyeluruh. Sikap tegas seperti itu yang kita tunggu dalam menyikapi masalah Tar Ball di Bintan.

Waktu itu, Presiden SBY juga menyangkangkan sikap lambat yang dilakukan oleh Pemda Riau dalam mencegah kebakaran agar tidak meluas. Dari pengalaman itu, sebaiknya Gubernur Kepri juga menyurati Presiden SBY sehingga tidak disalahkan dikemudian hari. Memang ini bukan masalah kebakaran. Tetapi siapa yang bisa menjamin Tar Ball tidak mencemari pantai Berakit, dan kawasan wisata Lagoi, Bintan.

Sekarang musim utara belum tiba. Kondisi pantai Berakit dan Lagoi masih bersih. Para nelayan belum terusik perbuatan yang tidak berperi-kemanusian dan peri-keadilan. Mestinya kondisi seperti itu harus terus dipertahankan. Upaya pencegahan harus dilakukan. Sehingga ketika musim utara datang, Tar Ball tidak ikut serta.

Dengan demikian, dipastikan tidak menganggu arus kunjungan wisata, karena musim utara terjadi diujung tahun dan pergantian tahun yang ramai dengan kunjungan wisatawan manca Negara.

Itulah potret buram kemerdekaan di daerah perbatasan. Belum ada dinding atau tembok raksasa yang membatasi kedaulatan laut antar bangsa-bangsa yang merdeka. Hanya dibatasi oleh titik-titik ordinat dan peta kedaulatan masing-masing Negara. Tidak ada Pos Penjagaan laut yang dijaga oleh Marinir maupun Angkatan Laut.

Begitu pula dengan kedaulatan udara. Tidak ada dinding dan tembok yang membatasi masing-masing kedaulatan udara bangsa-bangsa yang merdeka. Tidak ada alat yang mampu menahan kuat arus frekwensi gelombang radio maupun signyal telepon seluler. Tidak ada sarana yang mampu menahan oksigen (O2) berhamburan ke Negara tetangga. Atau menahan kabut asap yang dapat menyerang kedaulatan Negara tetangga.

Semua bergerak bebas. Termasuk kentut para Koruptor penjahat bangsa. Sudah melakukan tindakan Korupsi di negeri sendiri, lalu melarikan diri ke Singapura dan kentut disana. Saat angin utara tiba, bau busuknya menuju tanah air seiiring kado busuk yang bernama Tar Ball.

Mestinya kemerdekan didaerah perbatasan sama seperti daerah lain. Masalah limbah B3 harus dapat diatasi dengan baik sesuai amanat UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Didalam UU 32/2009 itukan diatur juaga tentang lingkungan hidup terkait lintas Negara. Tinggal implementasinya saja lagi. Semoga Pemerintah mau turun tangan.

Harapan kita semoga para nelayan didaerah perbatasan dapat menangkap ikan dengan layak bagi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jangan sampai mereka terbebani akibat Tar Ball. Jangan buat hasil tangkapannya berkurang. Jangan bikin mereka kehilangan makna kemerdekaan. Pasca kenaikan BBM sudah membuat nelayan terbebani. Jangan ditambah lagi dengan masalah limbah yang mengotori per—kemanusian dan peri-keadilan mereka.

Disadur dari :

http://kherjuli.wordpress.com/2013/08/04/batas-batas-kemerdekaan-daerah-perbatasan/

Merah Putih dibentangkan sepanjang 7 km di perbatasan

Pontianak-TBN.com :  Bendera Merah Putih sepanjang tujuh kilometer kini berkibar di sepanjang jalan di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, sejak Kamis (1/8/2013).

Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan RI–Malaysia (Malindo) memasang bendera tersebut dibantu warga Entikong di jalur darat lintas Malindo untuk menyambut peringatan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus mendatang.

“Bendera itu dipasang di sepanjang jalan menuju perbatasan mulai dari Tugu perbatasan antarkecamatan sampai di tugu Pancasila,” kata Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan RI-Malaysia (Malindo) Letnan Kolonel Infanteri Renal Aprindo Sinaga di Entikong, Jumat.

Ia mengatakan, kegiatan tersebut diikuti warga perbatasan Kecamatan Entikong, Muspika, Kades Entikong, pelajar dan ormas dan pemuda perbatasan.

“Masyarakat sangat antusias untuk memasang bendera di sepanjang jalur perbatasan. Ini menunjukkan warga di perbatasan, cinta dan setia dengan NKRI,” ujarnya.

Sementara Camat Entikong Markus mengatakan, masyarakat di perbatasan tidak pernah ingin lepas dari NKRI. Meskipun kondisi infrastruktur masih minim dan terisolir, tidak melunturkan semangat warga di perbatasan.

“Warga sepenuhnya tetap cinta Merah Putih dan NKRI. Itu terbukti ketika warga diminta untuk mengibarkan bendera di sepanjang jalur perbatasan, semua melakukan dengan semangat,” katanya.

Sekitar 500 bendera sudah terpasang sejak pukul 13.00 WIB dan sampai jelang 17 Agustus diperkirakan sekitar 2.000 bendera yang akan dikibarkan di sepanjang jalur perbatasan Entikong.

“Dimulai pemasangan 500 bendera di jalur darat,” kata Markus lagi.

 Sumber : Antara