Suasana Upacara HUT RI ke 68 di Perbatasan Papua-PNG

13767532062027092417

Anak-anak muda Papua merayakannya dengan menari Yospan utk memeriahkan upacara bendera Merah Putih di perbatasan RI-PNG. Foto : Antara

Skou-TBN.com : Upacara bendera HUT RI ke-68 pertama kalinya digelar di Lapangan Skouw-Wutung, wilayah perbatasan Indonesia dan Papua Nugini.

Upacara yang dihadiri lebih dari lima ribuan gabungan PNS, aparat keamanan, anak sekolah dan warga setempat ini, dipimpin langsung oleh Wali Kota Jayapura, Benhur Tommy Mano.

Pihaknya mengklaim sengaja melakukan upacara bendera di daerah perbatasan, untuk membuktikan bahwa daerah Papua aman dan wilayah Papua dapat menjadi garda terdepan pintu masuknya Indonesia.

“Papua ini tanah damai dan tolak ukurnya ada pada Kota Jayapura. Kalau Kota Jayapura ini aman, maka seluruh tanah Papua ini akan aman dan damai. Bahwa saya ingin bahwa daerah inilah daerah yang aman, daerah yang bukan miskin, daerah yang bukan pergolakan. Bahwa inilah garda terdepan, pintu terdepan dari Indonesia dan hari ini kita mengibarkan Bendera Merah Putih di daerah ini, suatu tanda bahwa NKRI harga mati,” jelasnya, Sabtu (17/6/2013).

Dalam perayaan HUT RI hari ini juga dihadiri oleh masyarakat PNG yang berada di sekitar perbatasan, diantaranya dari Provinsi Sandaun, warga dari Kampung Waromo dan beberapa kampung disekitar Vanimo.

Turut hadir pula dalam kegiatan tersebut Konsulat PNG. Jahar Gultom, sejumlah anggota anggota parlemen PNG, Panglima TNI PNG dan beberapa anggotanya.

Pengamanan Aparat

Dalam perayaan itu, sebanyak 200-an aparat gabungan TNI/Polri mengamankan perayaan HUT RI ke-68 di Tapal batas, Indonesia-Papua Nugini.

Kapolresta Jayapura, Alfred Papare menuturkan hingga penurunan Bendera Merah Putih yang dilakukan hari ini, situasi di Kota Jayapura kondusif.

“Polres 2 SST personil, Brimob 1 SST, diback up sama 4 rantis, kemudian dari polsek 10 anggota yang ada di pospol. Jadi total sekitar 200 lebih untuk yang lokasi ini. Diluar lokasi ini untuk PAM jalur kita gelar seluruh anggota Lantas, Japsel, Abe dan Muara Tami, diback up oleh Lantas Polresta,” jelas Alfred.

Pengamanan di Skouw-Wutung, perbatasan Papua-Papua Nugini tidak seperti biasanya, enam unit Baracuda disiagakan sepanjang jalan menuju ke perbatasan. Aparat gabungan TNI/polri juga disiagakan dengan senjata lengkap untuk pengamanan HUT RI tersebut.

Upacara HUT RI ke-68 sepanjang Papua berintegrasi dengan Indonesia, baru pertama kalinya dilakukan diwilayah perbatasan. Dalam kemeriahan HUT RI ke-68, ribuan warga Papua dan Papua Nugini ikut memeriahkan pertandingan dan atraksi seni budaya.

Sebelumnya, Juru bicara Polda Papua I Gede Sumerta Jaya menyebutkan lebih dari 4 daerah  di Papua rawan penembakan saat HUT RI hari ini. Daerah tersebut diantaranya Paniai, Puncak Jaya, Lanny Jaya, Serui, Sarmi dan Timika.

Sumber : KBR68H

Iklan

UGM Bentuk Pokja tentang Papua dan Perbatasan

 

YOGYAKARTA-TBN.com:  Papua sangat terkenal dengan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah. Namun, keberlimpahan sumberdaya alam tersebut bertolak belakang dengan kehidupan masyarakatnya. Lebih dari 80 persen masyarakat Papua tergolong miskin atau sangat miskin.

Rektor UGM Prof Dr Pratikno MSocSc pada diskusi Kelompok Kerja (Pokja) Papua UGM bertema ”Memetakan Masalah dan Solusi Papua” menuturkan, tingginya tingkat kemiskinan tersebut diperparah dengan keterisolasian kawasan, terutama akses menuju tempat-tempat pelayanan publik.

“Infrastruktur transportasi dan komunikasi masih sangat jauh tertinggal dibanding daerah-daerah lain di wilayah Indonesia. Harga barang-barang kebutuhan pokok jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga yang berlaku di Jakarta maupun kota-kota lain di luar Papua,” paparnya.

Karena itu, kehadiran perguruan tinggi di daerah perbatasan, terisolir dan daerah tertinggal menjadi suatu keharusan. Ide dan gagasan perguruan tinggi diyakini akan mampu menjawab berbagai persoalan masyarakat yang umumnya disebabkan oleh masalah-masalah ekonomi dan kemiskinan.

”Sebagai universitas nasional, universitas kebudayaan, universitas perjuangan dan universitas Pancasila, UGM memiliki tanggungjawab untuk itu. Sebab, UGM bukan hanya milik DIY, namun dalam mandat pendirian UGM, yang juga tercatum dalam Renstra merupakan representasi dari seluruh pelosok Indonesia”, ujarnya.

Terkait Pokja Papua di UGM, katanya, merupakan wujud kepedulian UGM terhadap daerah tertinggal dan terisolir. Dengan Pokja Papua itu, diharapkan mampu memahami Papua secara interdisipliner, karena UGM memiliki 18 fakultas, 28 Pusat Studi, Sekolah Vokasi dan sekolah Pascasarjana dengan 160 program studi.

”UGM membentuk Pokja, sebetulnya tidak hanya Papua saja, tapi working group regional. Kita saat ini sedang perkuat adalah Pokja tentang Papua dan Pokja tentang perbatasan. Sementara yang mulai kita rintis dari sisi sektor adalah working group untuk pangan, energi dan working untuk isu-isu strategis yang lainnya,” paparnya.

Sumber : http://www.suaramerdeka.com

TNI terjun membangun desa di pedalaman dan perbatasan RI

TNI terjun membangun desa di pedalaman dan perbatasan RI

JAKARTA-TBN.com : Rapat Paripurna Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) yang ke-33 digelar oleh TNI Angkatan Darat di Balai Kartini, Jakarta Selatan, 20 Desember tahun lalu bertujuan mengevaluasi pelaksanaan sejumlah kegiatan di tahun 2012, serta menyempurnakan konsep perencanaan dan penyelenggaraan TMMD tahun 2013.

“Dari pelaksanaan pembukaan rapat paripurna saya telah menyampaikan enam kebijakan operasi bakti TNI Manunggal dalam membangun desa,” ujar Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono, usai memimpin rapat paripurna di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Kamis (20/12).

Enam kebijakan operasi bakti TNI Manunggal, sebagai berikut :

1. Menegaskan bahwa program TMMD tidak dimanfaatkan kegiatan politik atau pemilukada.

2. Melanjutkan operasi Bakti TNI Manunggal membangun desa dengan sasaran desa-desa terpencil, terisolasi, tertinggal dan terkena bencana alam. Serta pengembangan sasaran operasi bakti melalui TMMD skala besar di wilayah Papua, papua Barat dan Kalimantan Barat.

3. Menambah sasaran TMMD reguler di wilayah Kalimantan Timur, NTT, Papua dan Papua Barat dengan sasaran peningkatan kehidupan sosial masyarakat dan membangun kesadaran bela negara.

4. Mengimbau keterlibatan masyarakat dalam pembangunan.

5. Membangun koordinasi yang solid antara pelaksana TMMD, Pemda, Kementerian dan tokoh masyarakat.

6. Menetapkan program yang berkelanjutan.

“Intinya program TMMD ini difokuskan untuk daerah perbatasan dan juga terpencil,” imbuh Pramono.

Sumber : merdeka.com

10 Mahasiswa Unsoed Ngabdi di Perbatasan RI-Papua Nugini

ImageJAKARTA – Ketika mendengar istilah kuliah kerja nyata (KKN), kita akan terbayang suasana seru hidup di desa dengan fasilitas seadanya. Selama sekira dua bulan, kita juga akan belajar banyak hal dari kehidupan bermasyarakat di desa.

Nah, gambaran itulah yang akan dijalani sepuluh mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Jawa Tengah, sepanjang Januari-Februari 2013 ini. Bedanya, mereka akan menjalani KKN di daerah perbatasan Republik Indonesia dengan negara Papua Nugini. Dalam program KKN Pos Pemberdayaan Keluarga (KKN-Posdaya) ini, mahasiswa Fakultas Hukum Unsoed, M Iqbal, dkk. akan tinggal di Kampung Wasur, Yangandur dan Tomer, Merauke.

Bersama mahasiswa dari Universitas Musamus (Merauke), kelompok KKN-Posdaya Unsoed tersebut akan mengembangkan potensi masyarakat di sana. Beberapa program yang sudah mereka siapkan di antaranya pengembangan budidaya ubi jalar, pengolahan hasil pertanian dan perikanan, serta perkenalan pilar pemberdayaan keluarga, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lingkungan hidup. Demikian seperti dilansir situs Undip, Kamis (17/1/2013).

Iqbal mengaku, tidak khawatir meski ditempatkan di daerah perbatasan negara. “Kami tak sabar untuk segera berangkat dan kami sangat berharap kami benar-benar ditempatkan di wilayah perbatasan sebab perbatasan adalah etalase negara kita yang harus dibangun dan diberdayakan,” ujar Iqbal.

Pada KKN-POsdaya periode Januari-Februari 2013, Unsoed memberangkatkan 1.760 mahasiswa ke berbagai daerah di Tanah Air. Menurut Rektor Unsoed Prof. Edy Yuwono, Ph.D, fokus KKN-Posdaya adalah meningkatkan kapasitas masyarakat pedesaan dalam mencapai kedaulatan, kesejahteraan, kemandirian dengan menjadikan keluarga sebagai sumbu kegiatan.

“Kesadaran akan pentingnya perbaikan empat pilar posdaya, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan hidup merupakan fundamental dari perubahan menuju peningkatan taraf hidup secara keseluruhan,” ujar Edy.(http://zonadamai.wordpress.com/2013/01/17/10-mahasiswa-unsoed-ngabdi-di-perbatasan-ri-papua-nugini-2/)